MEDAN | Imagonews ~ Dengan garis pantai lebih dari 2.300 kilometer dan wilayah laut mendekati 4 juta hektare, Sumatera Utara termasuk salah satu provinsi dengan kekayaan laut terbesar di Indonesia. Perairannya menyimpan mangrove, padang lamun, terumbu karang, hingga menjadi habitat satwa laut kharismatik seperti penyu dan lumba-lumba.
Namun di balik potensi tersebut, tekanan terhadap ekosistem laut terus meningkat. Penangkapan ikan berlebih, alih fungsi kawasan pesisir, serta masih terbatasnya pemahaman publik tentang pengelolaan laut berkelanjutan menjadi tantangan nyata. Dalam konteks inilah literasi kelautan menjadi semakin penting, utamanya untuk generasi muda.Merespons situasi tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DisKP) Provinsi Sumatera Utara bersama Konservasi Indonesia meluncurkan Pojok Konservasi Laut, ruang edukasi kelautan pertama di provinsi ini yang dirancang sebagai pusat pembelajaran berbasis sains.
Baca Juga:Ruang ini tidak sekadar menampilkan informasi, tetapi dirancang sebagai mini learning center yang menjembatani data ilmiah, kebijakan, dan praktik pengelolaan di lapangan. Melalui pendekatan visual dan materi yang ringkas, pengunjung diajak memahami kondisi laut Sumatera Utara, tantangan yang dihadapi, serta solusi pengelolaan berkelanjutan yang sedang dikembangkan.
Kepala DisKP Provinsi Sumatera Utara Supryanto menyampaikan, pengelolaan laut saat ini menuntut pemahaman lintas pihak. "Laut Sumatera Utara adalah sumber kehidupan dan ekonomi bagi banyak masyarakat pesisir. Namun tanpa pemahaman tentang keberlanjutan, aktivitas di laut berisiko merusak ekosistem dan mengancam sumber penghidupan masyarakat pesisir dalam jangka panjang. Pojok Konservasi Laut kami hadirkan sebagai ruang belajar bersama agar kebijakan dan praktik di lapangan semakin berbasis pengetahuan," ujarnya.
Pojok Konservasi Laut berlokasi di Kantor DisKP Provinsi Sumatera Utara dan menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi sains dalam pengelolaan kelautan dan perikanan. Ruang ini menyajikan berbagai topik utama, mulai dari penjelasan tentang target pemerintah pada MPA Vision 30x45, Wilayah Pengelolaan Perikanan 571 dan 572, kawasan konservasi perairan, hingga ekosistem kunci seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang.Selain itu, ditampilkan juga praktik perikanan dan budi daya berkelanjutan yang berkembang di Sumatera Utara sebagai contoh pendekatan pengelolaan yang lebih ramah lingkungan. Salah satu daya tarik utama ruang ini adalah kurasi informasi mengenai megafauna laut di perairan barat Sumatera Utara berdasarkan hasil ekspedisi OceanX bersama BRIN dan Konservasi Indonesia.
Baca Juga:Jeri Imansyah, Sundaland Program Director Konservasi Indonesia, menyampaikan penyebarluasan informasi ilmiah dalam Pojok Konservasi Laut ini diharapkan dapat mendorong pemahaman pada publik untuk pengelolaan laut yang lebih baik.
"Informasi kelautan yang akurat penting untuk perencanaan dan kebijakan. Tetapi dampaknya akan jauh lebih besar ketika informasi itu juga dipahami publik. Generasi muda perlu mengenal lautnya sendiri agar tumbuh kepedulian jangka panjang. Pojok Konservasi Laut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan praktik pengelolaan berkelanjutan," jelasnya.
Peresmian Pojok Konservasi Laut dirangkaikan dengan talkshow yang melibatkan komunitas, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah, serta mahasiswa. Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama karena mereka dinilai akan berperan besar dalam menentukan arah pengelolaan laut di masa depan.Salah satu mahasiswa menyebut ruang ini memberi pengalaman belajar yang lebih kontekstual. "Setelah berkunjung ke Pojok Konservasi Laut, saya bisa melihat data dan kondisi nyata laut Sumatra Utara. Keberadaan ruangan ini penting bagi kami sebagai mahasiswa untuk lebih memahami kenapa kebijakan dan konservasi itu penting," ujar Justin Gibrant Sinaga, ketua IMASPERA USU sekaligus mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan.
Ke depan, Pojok Konservasi Laut diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas pihak untuk meningkatkan literasi kelautan di Sumatra Utara. Inisiatif ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga laut tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada pemahaman dan partisipasi publik."Konservasi Indonesia menilai, di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem laut di berbagai wilayah Indonesia, pendekatan edukasi berbasis sains seperti ini menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang," tutup Jeri.